Tips Mengeruk Untung Besar dari Jualan Baju Bekas

Harga barang yang semakin hari semakin mahal membuat banyak orang memilih alternative belanja selain di mal. Bazar, distro, garage sale, kini sudah mulai menjadi pilihan yang dicari orang. Nah, Anda bisa merebut peluang usaha di sini dan sekaligus mengeruk untuk yang besar. Tapi, bagaimana kalau belum ada tempat untuk berjualan? Siapa saja target pasarnya? Bagaimana Risikonya? Berapa besar investasinya? Berikut ini tiptipseru.com akan mencoba berbagi tips tentang bagaimana mengeruk untuk besar berjualan baju bekas sebagaimana berikut ini:

Problem Tempat Jualan? Kalau Anda ingin memulai usaha ini dengan modal kecil, Anda bisa berdagang secara mobile, lebih kerennya dikenal dengan istilah baggage sale atau bagasi sale. Pada dasarnya konsep bagasi sale ini tak jauh berbeda dengan garage sale atau garasi sale. Biasanya istilah garasi sale dipakai untuk menyebut usaha khusus menjual produk-produk second –hand tapi dengan kualitas yang masih baik dan dijual dengan harga terjangkau. Dulu, lokasi penjualan garasi sale biasanya garasi atau teras rumah, tapi kini, konsep ini juga dipakai di acara-acara bazar. Nah, bagasi sale hadir seiring dengan makin kreatifnya orang menarik konsumen. Bila pada garasi sale, Anda yang menunggu konsumen datang ke rumah, tapi kalau bagasi sale, Andalah yang mendatangi konsumen. Istilahnya jemput bola. Memang garasi sale menjadi lebih praktis dan fleksibel ketimbang berjualan di garasi (dan teras) rumah. Pasalanya Anda tidak perlu menyediakan tempat yang strategis yang mudah diakses konsumen dan ruangan khusus di rumah Anda.

Siapa Saja Pangsa Pasarnya (Sasaran)? Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, sesuai namanya, bagasi sale tak membutuhkan tempat tertentu, seperti tokok atau gerai untuk memasarkan produk dagangan. Cukup digelar di bagasi mobil. Sehingga Anda bisa membawa barang dagangan Anda keliling kampus atau perkantoran. Atau kalau mau lebih menghemat biaya bensin, Anda bisa menyewa tempat parkir yang letaknya strategis, di depan kampus (saat mahasiswa kuliah), sekolah (saat ibu-ibu menjemput anak) atau perkantoran (saat pegawai istirahat) yang cukup ramai. Selain kedua potensi tersebut, Anda juga bisa ikut serta dalam kegiatan bazar atau pasar kaged yang kini sedang marak. Biasanya biaya yang dikenakan untuk mengikuti bazar ini jauh lebih murah ketimbang menyewa stand yang disediakan panitia. Karena stand Anda adalah mobil Anda sendiri bukan? Selanjutnya Anda bisa mengerucutkan siapa saja target market atau sasaran dari barang yang akan dijual. Hal ini penting, karena space bagasi mobil tidak terlalu besar, sehingga tak memungkinkan untuk membawa barang dagangan dalam jumlah banyak. Lain halnya dengan garasi. Anda bisa menjual apa saja disini, mulai dari sepatu, buku hingga furniture! Karena itu, Anda perlu melakukan survey kecil-kecilan terlebih dahulu, kira-kira apasih yang dibutuhkan konsumen. Bila target marketnya perempuan kantoran, maka Anda bisa membawa pakaian, setelan, sepatu dan aksesori perlengkapannya. Kalau pun mau menjual pernik interior rumah, pastikan barang-barang tersebut berukuran mini.


Bagaimana Cara Menarik Perhatian Pembeli? Apa pun produk yang Anda lungsurkan, jangan lupa perhatikan kualitasnya. Meskipun Anda menjual barang pribadi yang sudah tak terpakai lagi, tapi tak berarti Anda bisa menjual semua barang bekas Anda. Misalnya saja menjual pakaian. Sebaiknya pilih pakaian-pakaian yang baru Anda kenakan 2-3 kali dengan kualitas warna dan bahan yang masih bagus. Kalau perlu cuci atau masukkan ke dry clean lebih dulu semua pakain yang hendak Anda jual. Atau minimal Anda bisa merendamnya dengan pewangi dan gantung dengan cantik. Begitu juga dengan tas atau sepatu. Kalau perlu reparasi lagi sebelum Anda pajang. Ingat, menjual produk baru saja perlu ada daya tariknya, apalagi menjual produk second-hand. Semakin menarik produk Anda, tentu semakin banyak konsumennya. Selain itu, dandani pula mobil Anda supaya terlihat unik, menarik dan tampil beda, karena mobil Anda juga merupakan salah-satu magnet bagi calon pembeli Anda untuk datang menengok barang-barang dagangan Anda.

Bagaimana Risikonya? Risikonya sangat minim. Jika Anda ingin eksis dalam bisnis ini, Anda bisa mengakalinya dengan membeli barang-barang bekas di tempat lain untuk menambah stok barang Anda. Jadi tidak perlu mengandalkan koleksi Anda. Atau variasikan produk second-hand Anda dengan barang baru. Karena tidak semua pembeli ingin membeli barang second-hand. sehingga barang dagangan Anda menjadi lebih variatif. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah soal harga. Karena produk yang Anda jual adalah produk second-hand, tentu tidak bisa pasang harga tinggi untuk menjualnya. Biasanya, produk second-hand dijual dengan kisaran harga 50% hingga 70% lebih murah dari harga aslinya, tergantung kualitasnya. Berikut ini tiptipseru.com akan mencoba memberikan prakiran biaya yang dibutuhkan untuk memulai model usaha ini:

Total Biaya Operasional (Investasi Awal): Rp 280.000, dengan rincian:

  • Bensin : Rp 100.000
  • Detergen dan Pewangi : Rp 30.000
  • Hanger : Rp 50.000
  • Listrik : Rp 100.000

Omzet Per Bulan : Rp 500.000
Laba per Bulan : Rp 220.000

Analisa balik modal (BEP) = Investasi Awal : Laba
Rp 280.000 : 220.000 = 1-2 Bulan!

Bagaimana cukup menarik bukan? Yup, selamat mencoba sis…

Selanjutnya...

Anda Ingin Berlangganan Free-Artikel Dari tiptipseru.com?
Daftarkan e-mail Anda di bawah ini
dan pastikan verifikasi melalui email Anda:

Delivered by FeedBurner